Perbandingan Etika Buddha dengan Etika Keutamaan

Perbandingan Etika Buddha dengan Etika Keutamaan

Perbandingan Etika Buddha dengan Etika Keutamaan
Perbandingan Etika Buddha dengan Etika Keutamaan

 

Etika Buddha sebagai Etika Keutamaan

Dari pokok-pokok etika Buddha tersebut, seseorang dapat berargumen bahwa menurut ajaran Buddha, keutamaan moral terbentuk bukan dari pemahaman atas konsep-konsep ajaran, tetapi lebih pada hasil dari pengamatan dan observasi dari tindak-tanduk manusia utama (manusia tercerahkan) yaitu Sang Buddha sendiri. Untuk mencapai “hidup yang baik”, manusia pertama-tama harus bermoral dan hidup sesuai dengan tuntunan etis (sila) dalam Buddha. Seorang yang bermoral akan memiliki kualitas sebagai orang yang tenang, percaya diri, dapat dipercaya, dan terbuka, serta tidak memiliki rasa takut serta rasa salah yang disembunyikan. Sikap moral ini penting untuk dapat melakukan kontemplasi meditatif yang dipercaya dapat memperkuat penghayatan spiritual. Keduanya kemudian akan menghasilkan kesadaran dan kebijaksanaan, suatu pemahaman atas esensi dari alam serta kondisi manusia, yang pada akhirnya membawa jalan kepada pencerahan.

 

Berdasarkan pandangan ini, etika Buddha

seringkali disandingkan dengan etika keutamaan (virtue ethics). Salah satu pemikir yang menggunakan pendekatan etika Buddha sebagai etika keutamaan adalah Daemien Keown. Dalam tulisannya,[11] Barnhant menyatakan bahwa Keown mengambil posisi tegas dengan menyatakan bahwa kerangka pemikiran barat yang paling tepat untuk memahami etika Buddha adalah etika keutamaan Aristotelian (etika keutamaan teleologis) karena, menurutnya, prinsip paling mendasar dari aturan, ajaran, dan tuntunan, dalam ajaran Buddha menekankan nilai atau keutamaan tertentu untuk menjawab pertanyaan “visi kemanusiaan apa yang ditekankan oleh Buddha untuk menjadi manusia yang baik?” yaitu: hidup, kebijaksanaan, dan persahabatan.

Argumen Keown tersebut memang dapat dipandang sangat Aristotelian

menimbang kecenderungan naturalistiknya yang sesuai dengan doktrin Aristoteles bahwa apa yang membuat hidup manusia bermutu harus dicari dengan bertolak dari realitas manusia sendiri.[13] Bagi Aristoteles, yang khas dari manusia adalah akal budinya, dan karenanya tujuan manusia yang paling hakiki adalah mengejar kebahagiaan (eudamonia) melalui tindakan yang merealisasikan potensi ini melalui kegiatan kontemplasi filosofis (theoria) serta kehidupan politis (praxis) karena hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Hidup yang bahagia, pikiran kontemplatif, serta kegiatan sosial ini pula yang dapat dengan mudah kita sandingkan bersama visi kemanusian Buddhisme tadi dimana kebijaksanaan mewakili aras kontemplatif berada berdampingan dengan persahabatan (sebagai hasil dari welas asih) dalam aras kehidupan sosial di sisi lainnya.

Lebih jauh lagi, etika keutamaan Aristotelian juga disebut sebagai etika pengembangan diri.[14] Sistem etika yang ada tidak ditujukan untuk memberikan aturan yang ketat terkait apa yang baik dan buruk, melainkan memberikan visi atas hidup yang baik melalui pengertian yang tepat (orthos logos). Konsep ini mirip dengan kebijaksanaan (prajna) dalam etika Buddha yang atas dasar hal pemahaman tersebut, manusia mampu mengembangkan kebijaksanaan etis (phronesis) yang tumbuh melalui pengalaman untuk bertindak etis. Phronesis membutuhkan disiplin sebagaimana samadhi dan sila dalam Arya Aśtanga Mārga. Karena berdasarkan pengertian yang benar, maka jalan keutamaan dalam kedua sistem etika ini jugasama-sama dikenal sebagai jalan tengah (mesotes dalam etika Aristotelian dan madhyamika dalam etika Buddha). Visi kemanusiaan kedua sistem etika ini sama-sama memandang keutamaan sebagai suatu sikap yang seimbang (moderasi, ugahari) yang justru di dalamnya menunjukkan kematangan dan kekuatan pribadi.

 

Namun demikian, pada dasarnya

apabila dikaji lebih mendalam, terdapat perbedaan yang mendasar pada aras metafisis pada kedua sistem etika ini. Dalam ajaran Buddhisme, Ti-Lakkhana merupakan doktrin kunci yang menentukan sistem etika, bagi penganut Buddha, esensi dunia yang ada saat ini adalah tidak berinti dan selalu berubah, yang nyata adalah sunyata. Karenanya, etika dan metafisika dalam ajaran Buddha tidak dapat dipisahkan. Sistem etika yang ada dibangun atas landasan metafisis yang intinya di dalam dharma. Dengan demikian, horizonnya tidak hanya terbatas pada periode di dunia saat ini tetapi juga sampai ke eksistensi selanjutnya baik di kelahiran setelahnya (sebagai konsekuensi dari reinkarnasi) maupun apabila seseorang telah mencapai nirvana.

Lebih lanjut lagi, tuntunan moral dalam Buddhisme juga senantiasa menerapkan tiga kategorisasi yaitu: prajnā (kesadaran atau kebijaksanaan), sila (tindakan moral), serta samādhi (konsentrasi atau disiplin mental) yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Prajnā merupakan negasi terhadap seluruh bentuk pemikiran konseptual, yang karenanya mencapai pikiran non-dualistik dan merupakan kondisi di luar level diskursif akal.[15] Manusia yang telah memahami prajnā, maka dengan sendirinya akan menemui kebebasan, dan sejalan dengan sila dan samādhi, menggambarkan tathāgata yang merupakan wujud sempurna (paramitha).

Pandangan metafisis tersebut yang membedakan etika Buddha secara mendasar

Dengan etika Aristotelian yang tidak memberikan ruang terhadap transendensi. Akibatnya, dalam etika Aristotelian, theoria seolah terpisah begitu saja dengan praxis dan tidak saling menentukan walaupun terdapat paham pengertian yang benar. Selain itu, manusia juga semata-mata dilihat sebagai makhluk di dunia ini dan tiada unsur makna yang melampaui batas dunia ini. Hal yang berlawanan apabila disandingkan dengan konsep ti-lakkhana dan juga sunyata dalam tradisi Buddha. Lebih lanjut lagi, kebijaksanaan dalam pengertian prajnā juga tidak bisa disandingkan vis-à-vis dengan sophia maupun phronesis karena cakupannya yang lebih mendalam dan meliputi level di luar diskursif akal budi saja. Saling keterhubungan serta ketiadaan pemisahan yang tegas antara pandangan metafisis dengan sistem etika (dan epistemologi) inilah yang memang pada dasarnya menjadi ciri khas dari berbagai sistem filsafat timur dan membuatnya sulit ditempatkan dalam kacamata alam pikir barat.

Sumber : http://devitameliani.blog.unesa.ac.id/jam-tangan-pengukur-tensi

This article was written by epgd4