Etika Buddha sebagai Alternatif Rujukan Etika Praktis

Etika Buddha sebagai Alternatif Rujukan Etika Praktis

Etika Buddha sebagai Alternatif Rujukan Etika Praktis
Etika Buddha sebagai Alternatif Rujukan Etika Praktis

Menghindari seluruh keburukan

melakukan yang bajik dan mencapai yang keseluruhan, memurnikan pikiran – adalah inti dari ajaran Sang Buddha”
Dhammapada, ayat 183.
Pengantar
Hari-hari belakangan ini, kita dibanjiri oleh informasi yang membuat kecemasan makin meningkat. Mulai dari perpecahan diametral yang sarat akan isu rasial dan kepercayaan sebagai buntut dari kontestasi politik; meningkatnya tindak kekerasan yang terjadi kepada anggota keluarga, anak-anak, perempuan, maupun golongan yang terpinggirkan; dan juga merebaknya fenomena gerakan populisme dan fundamentalisme berbasis identitas yang rentan jatuh pada tindakan sewenang-wenang – misalnya tindakan persekusi yang ramai diperbincangkan beberapa waktu lalu.

Rangkaian narasi suram ini mau tidak mau membuat wacana

terkait kemerosotan moralitas menjadi semakin mengemuka. Tidak sedikit kelompok maupun perorangan yang menyerukan perlunya suatu tradisi moral yang mampu merawat keharmonisan kehidupan berbangsa yang penuh dengan keragaman. Diperlukan suatu etika praktis yang bisa memberikan panduan dalam hidup bersama yang menekankan pentingnya welas asih berdasarkan rasionalitas untuk menghindarkan diri dari tindakan yang bisa membawa yang liyan ke jurang kepedihan.

 

Dengan latar belakang tadi

serta mempertimbangkan konteks sejarah dan budaya lokal, etika Buddha bisa jadi dapat digunakan sebagai salah satu referensi untuk mencari alternatif sistem etika tersebut. Hal ini setidaknya sejalan dengan pandangan aliran komunitarian seperti Alasdair MacIntyre and Charles Taylor yang berargumen bahwa penilaian moral dan politis seseorang akan tergantung pada bahasa rasional serta kerangka penafsiran dimana pandangan dunianya terbentuk.[1] Ajaran Buddha, selain penekanannya kepada kesempurnaan perilaku (paramitha) berdasarkan pemahaman yang benar (prajna) dan welas asih (karuna), juga secara historis dekat dengan nilai-nilai lokal Nusantara. Beberapa intuisi utama dalam ajaran Buddha masih begitu lekat dengan nilai-nilai keutamaan yang dipercaya oleh masyarakat kita seperti konsep keselarasan dalam Etika Jawa yang banyak dipengaruhi oleh doktrin Dharma.[2]

Atas hal tersebut, tulisan ini akan berupaya untuk menyajikan pokok-pokok tradisi

moral dalam Buddhisme serta menilik kemungkinannya untuk dijadikan sebagai rujukan bagi bangunan etika praktis yang sesuai dengan konteks kekinian. Untuk itu, tulisan ini akan disusun dengan mula-mula memberikan gambaran singkat atas tradisi moral dan etika Buddha, kemudian perbandingannya dengan sistem etika keutamaan dan kewajiban yang merupakan dua aliran etika arus utama saat ini, dan refleksi kritis Etika Buddha sebagai rujukan etika praktis sebagai penutup.

Tradisi Moral dan Pokok-Pokok Etika Buddha
Dalam ajaran Buddha, nilai moral merupakan hal yang terikat erat dengan pokok-pokok ajaran dan dominan walau tidak tersaji secara sistematis. Alih-alih disajikan dalam prinsip tentang apa yang baik dan buruk sebagaimana sistem etika dalam tradisi Barat, ajaran Buddha disajikan dalam bentuk narasi dan deskripsi dari aturan-aturan moral partikular, panduan, keutamaan, keburukan tanpa memberikan justifikasi atas apa yang benar dan salah. Secara umum, sistem etika Buddha dibangun dalam kerangka afirmasi fundamental: pikiran manusia yang telah terbebas dari kebingungan karena tersulut ego, dapat mencapai kejelasan persepsi serta pengetahuan akan tindak yang benar, sepenuhnya selaras dengan apa yang sepatutnya dilakukan, dan berakar kepada keimanan atas kebenaran yang membebaskan.[3] Sistem etika Buddha dibangun dan dipertahankan untuk memberi gambaran pola kehidupan yang dipercaya kuat mendorong penganutnya untuk menjalaninya demi tujuan soteriologis dengan cara memberi petunjuk atas tindakan apa yang harus dilakukan oleh seorang penganut dalam kondisi tertentu agar dapat menghayati transendensi.[4]

Sumber dari ajaran Buddhisme yang utama ada pada Triratna yaitu: Buddha (yang tercerahkan), Dharma (hukum alam, kebenaran), dan Sangha (aliran). Ajaran Buddha tidak dipandang sebagai perintah Ilahi sebagai Tuhan Pencipta, tetapi sebagai prinsip rasional dari kesadaran yang tercerahkan dan apabila diikuti akan membawa kebaikan bagi diri dan yang lainnya.[5] Kesadaran tersebut membawa pemahaman atas hakikat kehidupan yang tidak menetap atau selalu berubah dan dikenal dengan Ti-Lakkhana atau tiga ciri utama kehidupan yang nantinya mempengaruhi sistem etika serta metafisika dalam ajaran Buddha. Ketiga ciri utama kehidupan tersebut menyatakan bahwa (1) Semua bentuk adalah tidak kekal (Anicca); (2) Semua bentuk adalah penderitaan (Duhkha); dan (3) Semua kondisi adalah tanpa aku dan tidak berinti (Anatta).

Ajaran Buddha yang mula-mula timbul sebagai bentuk kritik atas berbagai penghayatan kepercayaan tradisi Vedic yang ada saat itu[6] tetap dipengaruhi oleh beberapa konsep kunci tradisi Veda antara lain terlihat dalam doktrin-doktrin sebagai berikut:[7]

Dharma pada hakikatnya merupakan hukum alam yang menentukan perubahan material maupun moral dari semesta. Dharma mengatur setiap aspek kehidupan melalui hukum fisik dan juga aturan moral melalui karma. Hidup dengan mengikuti dharma akan membawa seseorang kepada kebahagiaan, kepuasan, dan pengampunan; dan hal sebaliknya, akan membawa seseorang terseret lingkaran reinkarnasi (saṃsāra). Dalam konsep Buddhisme, dharma tidak diciptakan maupun dikontrol oleh Dzat Tertinggi, melainkan ditemukan (i.e. dipahami) oleh mereka yang telah tercerahkan. Dalam dharma, nilai moral tidak terpisah dari kenyataan, dan kebaikan moral merupakan konsekuensi dari hukum alam;
Karma merupakan paham bahwa setiap tindakan moral mempunyai konsekuensi bagi yang melakukannya. Tindakan moral merupakan tindakan yang dapat membawa dua konsekuensi yaitu mengubah secara soteriologis dan menyusun kembali status spiritual bagi pelakunya serta menentukan nasib baik dan buruk yang akan ditemui oleh pelaku tersebut dalam hidupnya.
Reinkarnasi merupakan doktrin kelahiran kembali yang terkait dengan karma. Dalam budaya Veda dipercaya bahwa makhluk dapat berpindah dari satu eksistensi ke yang lainnya dalam lingkaran saṃsāra tergantung pada karma- Dalam ajaran Buddha, perpindahan tersebut dimungkinkan terjadi dari eksistensi manusia ke non-manusia. Hanya yang berhasil mencapai pencerahan yang dapat memutuskan dirinya dari lingkaran kelahiran kembali. Konsekuensinya, untuk menghindari karma buruk, ajaran Buddha membedakan diri dari ajaran Brahmana dengan (a) menolak pengorbanan binatang yang bertentangan dengan prinsip ahiṃsā (nir-kekerasan sebagai penghormatan atas kehidupan), (b) penolakan akan prosedur ritual yang rumit dan mekanistis; dan (c) penolakan akan sistem kasta yang memandang kelahiran lebih penting dari integritas moral.

Sumber : http://devitameliani.blog.unesa.ac.id/makna-proklamasi-bagi-indonesia

This article was written by epgd4