Etika Buddha dan Etika Kewajiban

Etika Buddha dan Etika Kewajiban

Etika Buddha dan Etika Kewajiban
Etika Buddha dan Etika Kewajiban

Di sisi lain, tidak banyak pemikir yang memasukkan etika Buddha

kepada etika kewajiban. Barnhat menjelaskan paling tidak terdapat dua alasan yang jelas mengapa etika Buddha tidak dianggap sesuai dengan etika kewajiban, misalnya etika Kantian. Alasan pertama adalah karena berlawanan dengan pandangan kant, ajaran Buddha cenderung menghindari pandangan metafisis yang memberikan status transendensi (dalam artian syarat kemungkinan) kepada manusia (atau kesadaran manusia).[16] Pandangan metafisis dalam ajaran Buddha justru bersifat paradoks dimana esensi dari manusia dan setiap pengada yang ada saat ini sesungguhnya tidak ada (tidak berinti, tidak permanen, dan merupakan penderitaan) sedangkan satu-satunya esensi yang nyata (dan dengan demikian transendensi) adalah sunyata.

 

Alasan selanjutnya dan yang lebih mendasar

etika Buddha tidak bersifat universal walaupun terdapat aturan normatif sebagaimana dirangkum dalam sila. Namun aturan sila bukanlah seperti maksim rigor dalam imperatif kategoris Kantian yang mempunyai klaim berlaku secara universal dan memaksa dalam dirinya. Dalam ajaran Buddha, tidak ada aturan yang bisa dibandingkan secara setara dengan aturan normatif dalam etika deontologi Kantian.[17] Sila dimaknai tidak terpisah dengan prajna maupun samadhi dan karenanya harus dimulai oleh pengertian yang tepat. Dengan demikian, penalaran moral memegang posisi yang penting di dalam sistem etika Buddha. Hal ini salah satunya tampak dalam konsep upaya, atau usaha yang bermakna, dimana benar dan salah menjadi konsep yang lebih cair karena penilaian akan tergantung pada konteks partikular di mana penilaian dilakukan.

Namun demikian, kita dapat juga berargumen

bahwa dharma sampai pada tataran tertentu juga merupakan bentuk kewajiban. Dharma yang merupakan hukum alam akan bekerja dalam tataran etis melalui karma. Manusia dengan pikiran bebasnya dapat selalu membuat pilihan bebas, namun dia tetap tidak dapat terlepas dari karma-nya dan ini adalah hukum yang berlaku pasti dan universal. Namun tetap saja, kita tidak bisa menyandingkan dharma dengan imperatif kategoris Kant karena konsep dharma sendiri juga paradoksal. Dan sekali lagi, penekanan kepada penalaran moral menemukan jalannya sebagaimana terlihat dalam ayat pertama Dhammapada: “Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya, bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya”

Baca Juga :

This article was written by epgd4