Dewa penghuni kelenteng tua di sebuah kota kecil

Dewa penghuni kelenteng tua di sebuah kota kecil

Dewa penghuni kelenteng tua di sebuah kota kecil
Dewa penghuni kelenteng tua di sebuah kota kecil

Kali ini aku ingin bercerita sedikit mengenai sosok dewa

yang menjadi tuan rumah di sebuah kelenteng tua di sebuah kota kecil. Kisahnya memang belum banyak dikenal luas, tetapi oleh masyarakat setempat dipercaya merupakan bagian dari sejarah lokal.

Cerita yang mau aku sampaikan kali ini aku dapatkan gara-gara kunjunganku ke sebuah kelenteng tua di Tegal, sebuah kota kecil di pesisir utara Pulau Jawa. Memang bukan merupakan legenda sih, tetapi mungkin bisa kita kategorikan sebagai mitos karena oleh masyarakat Tegal, khususnya para nelayan yang bermukim di daerah Muarareja, dipercaya betul-betul pernah terjadi.

 

Nah kelenteng itu bernama Kelenteng Tek Hay Kiong

yang menurut catatan dibangun pada tahun 1837 oleh Kapitan Tan Koen Hway, seorang pemuka masyarakat Tionghoa di Tegal pada masa itu. Tek Hay Kiong berarti istana bagi Tek Hay Cin Jin yang merupakan dewa utama yang dihormati di Kelenteng Tek Hay Kiong.

Kalau kita coba telusuri ke negeri China sana, ternyata dewa ini tidak dikenal lho, padahal kan biasanya dewa-dewa yang bermukim di kelenteng-kelenteng di seluruh dunia merupakan dewa-dewa yang dikenal dalam ajaran Taoisme yang berasal dari daratan China, dan otomatis dewa-dewa itu juga dikenal di sana.

Lha . . trus dari mana munculnya Tek Hay Cin Jin ini? 😯

Itu dia, keberadaan tokoh ini tidak bisa lepas dari peristiwa pembantaian orang-orang Tionghoa di Batavia oleh VOC pada tahun 1740 yang menelan korban 10.000 jiwa lebih sampai memerahkan aliran sungai-sungai di daerah itu. Pembantaian tersebut menyulut kemarahan tokoh-tokoh Tionghoa pada masa itu seperti Oey Ing Kiat, Kwee An Say, Tan Pan Jiang dan juga Kwee Lak Kwa yang kelak akan bergelar Tek Hay Cin Jin.

Kemarahan orang-orang tersebut pada akhirnya menyebabkan pecahnya perang besar yang berlangsung antara tahun 1741-1742 antara pasukan gabungan orang-orang Tionghoa dan Jawa pasukan VOC, yang kemudian dikenal dengan sebutan Perang China atau Geger Pacinan. Perang ini berkobar di hampir semua daerah di Pulau Jawa; apalagi banyak juga penguasa daerah di Tanah Jawa yang sudah lama memendam kejengkelan terhadap VOC akhirnya bergabung dengan pasukan orang-orang Tionghoa tersebut, menyebabkan kekuatan perlawanan menjadi semakin besar.

Memang pada akhirnya VOC

dapat mengalahkan pasukan gabungan tersebut, setelah mendesak pasukan gabungan ke arah timur dan berhasil menangkap beberapa pemimpinnya. Tetapi itu tidak berarti bahwa VOC boleh bersenang hati karena di berbagai daerah di Pulau Jawa ini secara sporadis masih saja terjadi penyerangan terhadap benteng-benteng VOC, tidak terkecuali di Tegal.
Nah salah satu tokoh yang memimpin perlawanan di daerah Tegal tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Kwee Lak Kwa yang semula ikut bertempur di Batavia tetapi karena kalah persenjataan dari VOC, bersama pasukannya terdesak sampai ke daerah Tegal.

Jika kita kembali pada masa sebelum pecahnya Geger Pacinan itu, kita bisa menelusuri munculnya tokoh yang bernama Kwee Lak Kwa ini dari Semarang. Di sanalah pada tahun 1695 Kwee Lak Kwa dilahirkan dan kemudian tumbuh menajdi seorang pedagang besar yang cukup disegani. Karena profesinya itulah Kwee Lak Kwa kerap melakukan perjalanan dengan kapalnya menyusuri sebagian bandar-bandar utama di Nusantara ini. Perjalanan Kwee Lak Kwa bisa ditelusur sejak dari Bandar Palembang di timur Sumatera, seluruh kawasan pantai utara Pulau Jawa, hingga ke Pulau Bali.

Dalam tiap perjalanannya, Kwee Lak Kwa tidak lupa menjalin hubungan dengan pedagang-pedagang dan tokoh masyarakat di kota dan pelabuhan-pelabuhan yang disinggahinya, tidak terkecuali di Bandar Batavia yang pada waktu itu merupakan salah satu pelabuhan besar di Pulau Jawa ini. Di Batavia itulah Kwee Lak Kwa berkenalan dan kemudian menjadi akrab dengan tokoh-tokoh masyarakat Tionghoa setempat, termasuk dengan Kwee An Say dan Tan Pan Jiang.

Ditengarai pula bahwa tahun 1737 merupakan tahun dimana Kwee Lak Kwa singgah untuk pertama kalinya di Tegal atau pada masa itu masih disebut Tetegual. Daerah Tegal yang makmur akhirnya membuat Kwee Lak Kwa memutuskan untuk tinggal dan menjalankan usaha dagangnya dari situ.

Di tempat tinggal barunya itu, Kwee Lak Kwa benar-benar membaur dengan penduduk setempat. Ditularkannya semua pengetahuan yang dimilikinya, baik di bidang pertanian, perdagangan, dan juga di bidang kelautan dan perikanan. Karena itulah penduduk daerah tersebut bisa dikatakan akhirnya memiliki kemampuan dan penghidupan yang relatif lebih baik dibandingkan dengan penduduk daerah lain yang sama-sama berada di pantai utara Pulau Jawa ini.

Baca Juga : 

This article was written by epgd4