Inilah Alasan Kenapa Tik Tok Harus Diharamkan

Inilah Alasan Kenapa Tik Tok Harus Diharamkan

Ini nih isu yang tengah viral dan menjadi omongan di sana sini. Seperti yang dijalankan seorang remaja bernama Bowo. Dia udah menempatkan sejumlah tarif untuk orang yang idamkan berjumpa dengannya. Lebih mahal berasal dari tiket konser kebanyakan. Ya, Bowo viral melalui aplikasi Tik Tok. Belakangan aplikasi ini tengah ngetren di masyarakat. Bagaimana tidak, berasal dari umur muda hingga tua menjadi pengguna aktif di aplikasi Tik Tok. Tak heran kalau aplikasi ini udah menembus angka 50 juta kali unduhan. Gila gak tuh!

Sepintas target berasal dari aplikasi ini terlalu mulia lebih-lebih terlalu mulia. Jelas tercantum bahwa pihak pengembang idamkan akan terbentuknya seorang manusia yang berjiwa paripurna. “Kami mengusahakan untuk memberdayakan lebih banyak jiwa kreatif untuk menjadi anggota berasal dari revolusi konten”. Wadaw berat juga cita-citanya kan. Tapi sesungguhnya memahami bahwa asas dan komitmen utama di dalam aplikasi ini adalah kebebasan berekspresi.

Hal ini bersamaan bersama dengan regulasi dasar Indonesia, bahwa kebebasan berekspresi tersedia dan dilindungi negara. Lain halnya bersama dengan warganet yang tidak memahami bersama dengan cita-cita luhur Tik Tok. Mereka udah mengakibatkan warganet lain geram gara-gara penggunaan aplikasi yang terlalu kelewat batas. Yak mosok di depan jenazah malah bikin video joget dangdut sambil jingkrak sana jingkrak sini. Piye iki?

Jujur saja, berangkat berasal dari rasa penasaran akan cerita orang serta restu berasal dari ke dua orang tua, penulis memberanikan diri coba menginstal Tik Tok siapa tau dapet jodoh. Setelah berhasil mengunduh dan membuka aplikasi Tik Tok hasilnya adalah jeng jeng jeng…. ..tetew!

Innalillah, apa yang penulis menyaksikan di aplikasi berbasis video itu lebih tidak baik berasal dari cerita orang-orang. Ada yang bikin video vulgar, mempermainkan gerakan salat, dan perihal perihal nyeleneh lainnya. Pantas saja kalau tersedia yang bilang ini aplikasi goblok, nyatanya sesungguhnya goblok sekali. Menambah rasa miris yang mengiris, mayoritas pembuat video ‘tidak jelas’ berasal berasal dari anak-anak umur sekolah. Sedikit curhat kepada pembaca yang budiman, sebagai mahasiswa keguruan tentu Kedatangan aplikasi ini terlalu mengganggu guru di dalam upaya pengembangan cii-ciri siswa sepanjang di sekolah. Dengan aplikasi ini apa yang diajarkan guru seolah menjadi tidak bermanfaat. Bukan gara-gara guru tidak optimal di dalam mengajar, tapi sesungguhnya arus pembodohan di dalam aplikasi ini kepalang kuat dan buanyak.

Mengutip rencana diri di dalam teori ‘interaksionisme simbolik’ George Herbert Mead, bahwa umur anak-anak sekolahan tengah berada di dalam fase play stage dan game stage. Singkatnya anak-anak pada fase ini masih belum dapat membedakan baik dan tidak baik suatu nilai. Mereka cenderung ringan mengikuti dan terbujuk oleh kondisi sosial di sekitarnya.

Sekarang coba kita kaitkan kedekatan dan interaksi sosial anak yang terlalu berlebih bersama dengan Tik Tok. Jadinya? Anak-anak sekolahan kita bersama dengan mudahnya yang kebawa-bawa goblok. Anak-anak, layaknya yang dikatakan Neil Postman, menjadi bidak pembodohan dan dewasa sebelum waktunya.

Pembodohan itu terlihat berasal dari viralnya fenomena Tetew. Sekarang, anak-anak tidak ulang merengek minta dibelikan es bon-bon atau naik komedi putar. Mereka merengek idamkan kuota bikin main Tik Tok. Waduh-waduh macem mane. Perusakan ethical yang diakibatkannya lebih parah ketimbang perang kemerdekaan, perang dingin, lebih-lebih perang dunia sekalipun.

Bahaya laten revolusi generasi Tik Tok terlihat memahami di pelupuk mata. Sebagai orang-orang yang belum terkontaminasi serangan virus Tik Tok, tentu kita wajib mempersiapkan obat penawarnya. Langkah paling ringan yang dapat diharapkan untuk memutus mata rantai penyebaran virus Tik Tok adalah berikan pencerdasan kepada para penggunanya, yang memahami ini tidak mudah.

Yah bukan tidak boleh bermain Tik Tok tapi yo sing mikir dong. Selain itu pihak pemerintah di dalam perihal ini Menkominfo, selayaknya berikan rambu-rambu pada pihak pengembang tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh tayang pada aplikasi Tik Tok. Dengan catatan kalau mereka masih idamkan beroperasi di Indonesia. Kalau perlu, pemerintah dan pengembang bekerjasama melakukan pembersihan pada akun-akun yang bernuansa pembodohan. Namun kalau keadaannya layaknya sekarang, di mana tidak tersedia titik terang dan upaya pembodohan kian menyerang, penulis rasa kini sesungguhnya udah waktunya aplikasi Tik Tok diwafatkan.

Sumber :https://www.lele.co.id/panduan-lengkap-7-cara-menanam-hidroponik-sederhana-di-pekarangan/

This article was written by epgd4