Perubahan dalam Transformasi Digital

Perubahan dalam Transformasi Digital

 

Perubahan dalam Transformasi Digital

Teknologi mendisrupsi berbagai industri, termasuk finansial dan perbankan. Ini memaksa lembaga perbankan untuk melakukan transformasi digital jika mereka tidak mau tergerus zaman.

Menurut Director Sales

Financial Services, APAC, Red Hat, Benjamin Henshall, transformasi digital adalah sebuah proses yang terus berkelanjutan.

Membeli teknologi baru tidak serta-merta menjadikan perusahaan selesai melakukan transformasi digital. Menurutnya, ada empat hal yang perlu diubah dalam perusahaan untuk bisa tetap bersaing di era digital.

“Pertama teknologi,” kata pria yang akrab dengan panggilan Ben ini saat ditemui di J.W. Marriott. “Karena teknologi generasi sebelumnya tidak lagi cocok. Di sinilah peran Red Hat.”

Menurutnya

Red Hat dapat memberikan aristektur software hybrid cloud yang fleksibel, memungkinkan perusahaan untuk menambahkan beban kerja atau menguranginya sesuai dengan kebutuhan.

Penggunaan kata “hybrid cloud” berarti perusahaan bisa menggabungkan penggunaan cloud publik dan cloud privat atau on-premise.

“Dua, perilaku para pekerja. Tiga, proses, penggabungan dari pegawai dan teknologi. Empat, regulasi. Karena ada banyak regulasi di perusahaan besar yang membuat teknologi baru tidak bisa digunakan,” kata Ben.

Saat ini, perusahaan dan lembaga pemerintah memiliki banyak opsi terkait aristektur cloud. DI satu sisi, ini memberikan kebebasan pilihan. Di sisi lain, ini mungkin akan membuat perusahaan bingung untuk memilih solusi terbaik.

“Jika saya ada di posisi perusahaan, saya akan memikirkan tentang cara mendapatkan platform yang memungkinkan software lama dan software baru berjalan berdampingan,” ujar Ben.

Dengan begitu

perusahaan tidak perlu membangun platform baru setiap kali mereka menggunakan teknologi baru.”

Red Hat memiliki Open Innovation Labs untuk membantu perusahaan klien menyesuaikan diri dengan teknologi baru yang mereka gunakan. “Open Innovation Labs adalah ketika kami bekerja sama dengan pelanggan di kantor mereka. Kami membawa tim ahli kami untuk menunjukkan tim klien kami, bagaimana cara mengembangkan software dengan cepat.”

“Perusahaan bisa belajar tentang cara menggunakan teknologi baru. Dan yang paling penting, mereka akan mengadopsi budaya belajar, sehingga mereka bisa terus mengaplikasikan apa yang mereka pelajari untuk mengubah para pekerja, proses perusahaan, dan regulasi ketika mereka mengadopsi teknologi baru lainnya.”

Salah satu contoh bank yang menggunakan jasa Red Hat adalah BTPN. Beberapa tahun lalu, masalah BTPN adalah mereka tidak bisa menumbuhkan jumlah pengguna.

“Mereka memiliki sistem yang telah bekerja dengan baik selama ini. Namun, bank tidak tumbuh. Dan perbankan didisrupsi oleh digitalisasi. Jika BTPN tidak melakukan apa-apa, mereka tidak akan bisa tumbuh atau mereka mungkin akan kalah oleh pesaing.”

Dalam kasus BTPN

jika dulunya mereka memanfaatkan pihak ketiga untuk mengelola segala sesuatu terkait IT, kini mereka memiliki tim sendiri yang akan bisa memanfaatkan teknologi baru yang digunakan BTPN, yaitu open source hybrid cloud milik Red Hat. Ini memungkinkan BTPN menawarkan layanan keuangan mereka via aplikasi, yaitu Jenius.

Ben menjelaskan, saat ini, nasabah bank ingin bisa menggunakan layanan keuangan via smartphone. Karena itulah, bank harus bisa menyesuaikan diri dan mengubah cara mereka dalam membuat dan merawat aplikasi.

 

Sumber : https://www.ram.co.id/

This article was written by epgd4