Huawei P20 Pro: Bodi Keren, Kamera Mantab!

Huawei P20 Pro: Bodi Keren, Kamera Mantab!

Smartphone dengan tiga kamera belakang. Hmmm, layaknya apa ya rasanya? Hanya gimmick atau sesungguhnya sangat berguna? Yuk mari kita cari tahu.

Huawei P20 Pro Bodi Keren, Kamera Mantab!

Desain

Mewah dan menarik. Dua kata selanjutnya pantas bikin menggambarkan desain Huawei P20 Pro. Dari yang tadinya aluminium, saat ini Huawei udah berubah memanfaatkan material kaca. Hasilnya, smartphone ini menjadi terlihat sangat premium.

Sebenarnya warna favorit bikin P20 Pro adalah twilight. Tapi selagi simak kita sebabkan video review-nya Mei lalu, varian warna Twilight yang menjadi unggulannya belum banyak beredar. Saat itu hanya ada dua pilihan warna: hitam dan biru. Dan kita menentukan warna biru dikarenakan sesungguhnya lebih menarik.

Bodi belakang P20 Pro dihiasi serangkaian kamera dan terhitung logo yang seluruhnya ditaruh di segi kiri sehingga keluar simetris. Mulai berasal dari triple kamera di atas, LED flash, lalu ada logo Leica dan yang paling bawah ada logo Huawei. Top banget lah bikin diajak mejeng.

Sama layaknya hape-hape flagship berbodi kaca lainnya, kita nggak tega bikin memanfaatkan smartphone ini tanpa casing. Rasanya risih kalau memandang bodinya yang kinclong kotor kena sidik jari. Jadinya kita tetap memanfaatkan jelly case gratisanya yang ada di dalam paket penjualannya. Bahkan saking kinclongnya, kita bisa ngaca dengan tahu di bodi belakangnya.

Tapi yang sangat disayangkan, Huawei belum memanfaatkan bodi kaca ini dengan optimal. Karena P20 Pro belum support wireless charging. Selain itu, kekurangan lain yang perlu kita menerima adalah ketiadaan jack audio. Tapi cukup terobati dengan hadirnya sertifikat IP67.

Punya bodi belakang yang mewah, P20 Pro terhitung terhitung smartphone yang solid. Feel solid ini tercermin lewat rangka bodinya yang cukup tebal. Terasa banget kalau ini adalah smartphone mahal.

Bagian depannya terhitung tak kalah menarik berasal dari bagian belakangnya. Yang paling mengambil perhatian tentunya poni di segi atas layarnya. Tapi ukurannya tidak sangat besar, dengan sebutan lain lebih kecil berasal dari poni Vivo V9 dan OPPO F7. Isinya ada kamera depan dan earpiece.

Sedangkan di bagian dagunya, jujur kita agak kurang sreg dikarenakan ada sensor fingerprint. Padahal kalau boleh memilih, kita lebih puas bezel-nya dibikin setipis iPhone X dan fingerprint bisa ditaruh di belakang.

Software

Huawei P20 Pro dibekali EMUI 8.1 dengan basis Android 8.1. UI-nya tawarkan opsi untuk memanfaatkan homescreen dengan atau tanpa App Drawer. Dan dikarenakan unit ini adalah versi Singapore atau internasional, menjadi kita bisa langsung memanfaatkan layanan Google. Tentunya versi formal di Indonesia terhitung udah ter-install layanan Google.

Di di dalam P20 Pro ternyata udah ada sebagian aplikasi tambahan yang pre-installed, tapi jumlahnya tidak banyak. Sementara bikin fitur-fitur unggulan khas Huawei tetap tetap ada, layaknya App Twin dan Knuckle Gesture (shortcut). Tapi yang paling kita puas yakni ada opsi untuk pindah proses navigasi.

Kalau tidak mau atau barangkali bosan memanfaatkan on-screen button, kita bisa hilangkan dan memanfaatkan proses gesture. Praktis, layarnya menjadi terasa lebih lega. Satu kembali fitur revolusioner yang tidak kalah perlu adalah opsi untuk menonaktifkan poni layarnya.

Dari sektor sekuriti, P20 Pro terhitung ditunjang fitur face unlock. Akurasi dan kecepatannya bisa diacungi jempol dan udah bisa mengambil alih manfaat fingerprint dengan optimal.

Face unlock-nya bisa dipakai dengan baik di daerah minim cahaya dan tidak bisa dibohongi memanfaatkan foto. Kekurangannya hanya satu: tidak bisa dipakai selagi layar smartphone menghadap langsung ke paparan cahaya matahari.

Hardware

Walaupun berstatus sebagai flagship keluaran terbaru, tapi P20 Pro tetap mengandalkan prosesor th. lalu yang udah duluan dipakai di Mate 10, yakni Kirin 970 yang terintegrasi GPU Mali-G72 MP12. Jadi tidak heran skor benchmark-nya kalah berasal dari Exynos 9810 atau Snapdragon 845.

Terlepas berasal dari skor benchmark, smartphone ini tetap terasa sangat powerful untuk multitasking menggerakkan app-app terbaru. Terbantu dikarenakan kapasitas RAM-nya 6 GB. Buat nge-game overall terhitung oke, tapi tidak selancar Exynos 9810 dan Snapdragon 845. Contohnya tepat kita memanfaatkan main PUBG, sesekali ada stuttering, tapi tidak sangat mengganggu.

Kalau mau install banyak app atau game terhitung tidak persoalan dikarenakan Huawei sedia kan storage 128 GB. Tapi perlu dicatat, kita tidak bisa meningkatkan kapasitasnya dikarenakan minus slot microSD. Masih berkata soal kapasitas, baterat P20 Pro tergolong besar dibanding flagship lainnya, yakni 4.000 mAh.

Daya tahannya bisa bikin kita tersenyum dikarenakan selama pakai, kita bisa bisa screen-on-time antara enam sampai tujuh jam, yang bermakna cukup impresif.

Dan enaknya, P20 Pro mendapat dukungan Super Charge dengan charger bawaan berdaya 5 Ampere. Durasi pengisiannya hanya perlu selagi 1 jam 25 menit. Tapi kalau kita mau memanfaatkan charger dengan teknologi Quick Charge 3 terhitung kompatibel, hanya saja durasi pengisiannya sedikit lebih lama.

Untuk urusan multimedia, P20 Pro ditunjang layar lega dan speaker mumpuni. Diagonal layarnya 6,1 inci, panelnya AMOLED, resolusinya 2.240 x 1.080 piksel dengan rasio 18,7:9. Asyiknya, resolusi dan temperatur warna layarnya bisa diubah.

Bukan hanya lega, panel AMOLED terhitung berhasil bikin layar P20 Pro keliatan cerah tapi terhitung tidak mencolok bikin mata sakit. Sedangkan speaker-nya udah stereo, ada di atas dan bawah. Speaker ini mendapat dukungan teknologi Dolby Atmos

Kamera

Huawei P20 Pro menyandang gelar kamera smartphone terbaik versi DxOMark. Konfigurasi kameranya menyeramkan dikarenakan ada tiga lensa. Yaitu 8 MP telephoto f/2.4, 40 MP RGB f/1.8 dan 20 MP monokrom f/1.6.

Resolusi kamera 40 megapikselnya ini real. Kalau motret dengan format JPG ukuran file-nya hanya 6 MB. Tapi kalau motret RAW memanfaatkan mode pro, ukurannya membengkak menjadi nyaris 80 MB.

Kalau motret memanfaatkan resolusi maksimal 40 MP, fitur zoom-nya otomatis tidak berfungsi. So, kalau mau memanfaatkan fitur 3x optical zoom atau 5x hybrid zoom, kita terpaksa perlu turunkan resolusinya.

Agak beda berasal dari Mate 10 series, kamera P20 Pro miliki AI yang lebih baik, namanya Master AI. Pas aktif, fitur ini bisa mengoptimalkan kamera untuk motret momen-momen spesifik dengan membuat perubahan mode kamera secara otomatis.

Misalnya tepat deteksi wajah, mode portrait dapat langsung aktif. Begitu terhitung tepat deteksi objek langit atau awan, pohon atau daun, makanan, teks atau dokumen, mode kameranya dapat pindah secara otomatis.

Cara kerja AI ini sesungguhnya simpel. Ketika deteksi objek-objek yang udah disebutkan tadi, software kameranya dapat meningkatkan saturasi dan sharpness sehingga hasil jepretannya dapat ngejreng banget.

Tapi saking ngejreng-nya, warna yang ditampilkan menjadi tidak real. Ibaratnya layaknya foto yang udah di-edit. Kami menyimpulkan kalau AI di P20 Pro dapat berfungsi banget bikin yang doyan show off foto di Instagram tapi males ngedit-ngedit.

Apalagi kalau bikin motret low light, kameranya berhasil bikin ngiler. Tapi perlu dicatat, hasilnya dapat lebih istimewa kalau ada cahaya lampu. Jadi tepat motret low light, kamera P20 Pro bisa menangkap cahaya lebih banyak dikarenakan ada teknologi Pixel Fusion.

Apalagi kalau kita memanfaatkan night mode. Mode ini perlu selagi 4-5 detik bikin menangkap gambar, menjadi hasilnya dapat lebih oke lagi. Kita tidak perlu memanfaatkan tripod, bisa memanfaatkan tangan kosong. Yang perlu tangan kita jangan sangat tremor.

Dan satu kembali soal kekuatan motret bokeh, P20 Pro bisa dibilang adalah yang paling rapi untuk selagi ini. Saat ketemu objek yang rumit, efek bokeh-nya tetap tergolong rapi. Begitu terhitung selagi motret bokeh dengan cahaya kurang memadai, noise-nya tetap di dalam batas wajar.

Tapi sejujurnya, kalau AI-nya tidak aktif, kamera P20 Pro tidak sangat superior. Bahkan dibeberapa kondisi, lebih-lebih HDR, kualitasnya seringkali di bawah Google Pixel 2. Apalagi kalau kita berkata soal kamera depan.

Resolusi kamera depan P20 Pro 24 MP, tapi hasil jepretannya kurang tajam dan efek beauty-nya terasa over. Bahkan kala kita matikan fitur beauty, wajah kita tetap kena softening.

Beralih soal video, P20 Pro ditunjang AI Stabilizer dan bisa rekam maksimal sampai resolusi 4K 30 fps. AI Stabilizer ini terbukti ampuh dan optimal menstabilkan video, tapi sayangnya hanya bisa aktif diresolusi Full HD saja, tidak support 4K.

Kemampuan lainnya yakni super slow motion 720p 960 fps. Tapi kalau diperhatikan, kualitasnya tidakk sebaik Xperia XZ2 atau Galaxy S9 dikarenakan tetap terlihat kurang smooth.

Kesimpulan

Huawei berhasil menunjukkan kapasitasnya sebagai produsen smartphone berkelas. Selain desainnya mewah, P20 Pro terhitung miliki kamera yang wow dengan pertolongan AI. Terutama bikin kalian yang hobi motret low light atau pun yang puas hasil foto dengan warna-warna mentereng. Tapi terhitung perlu dicatat, kalau motret tanpa pertolongan AI, hasil jepretannya barangkali dapat keluar biasa-biasa saja.

This article was written by epgd4